Pada bulan September 1996 seorang pasien HIV/AIDS bernama Chris Dafoe, tinggal di Cloverdale, Indiana, Amerika, merasa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Berat badannya terus menurun secara drastis, demikian juga tenaga dan kekuatannya makin lama makin berkurang. Dia merasakan tubuhnya semakin hari semakin parah. Hal ini diakibatkan karena infeksi virus HIV–nya telah merajarela menggerogoti seluruh bagian tubuhnya. Hasil pemeriksaan laboratorium yang terakhir menunjukkan bahwa di dalam darahnya telah ditemukan lebih dari 600,000 virus RNA dan ini merupakan suatu indikasi bahwa dia sudah benar-benar dekat diambang pintu kematian.
Dalam kondisi untuk menyongsong hari kematiannya itu, ia segera menjual semua harta bendanya dan mulai mempersiapkan keperluan pemakamannya. Semua biaya keperluan untuk pembelian peti mati, sebidang tanah pekuburan dan biaya yang diperlukan untuk pengurusan upacara penguburuannya telah dilunasi di muka . Sebelum ia mati, dia ingin mengabulkan untuk dirinya sendiri satu nazar dengan menggunakan semua sisa kekuatan dan tenaganya yang terakhir, untuk pergi berlibur ke suatu daerah pedalaman di salah satu hutan di kepulauan pasifik. Akhirnya ia memilih suatu negara kecil, yakni Republik Suriname.


